Jual Pacar ke Dolly, Pemuda Sampang di Tahan

30 December 2008 § 2 Comments

thumbnailphp1

SURABAYA, pulau-madura.com – Nahas benar nasib Lina (bukan nama sebenarnya, Red). Sudah enak-enak jadi TKW di Malaysia, dia dibujuk pulang ke Surabaya, dinodai, diporoti uang hingga Rp 9 juta, dan dijual ke Dolly oleh seorang lelaki asal Dusun Lebak Sampang.

Unit PPA (perlindungan perempuan dan anak) Satreskrim Polwiltabes Surabaya Senin (29/12) malam lalu berhasil membongkar kejahatan trafficking di Wisma Srikandi, Dolly. Tiga orang ditangkap, yakni satu mami, seorang penyuplai wanita dan pembantunya.

Tiga orang tersebut adalah Feris Dia Ribut, 24, warga Dusun Lebak, Sampang, Madura. ’’Feris inilah yang menjadi otak kejahatan ini. Dia lah yang membujuknya pulang ke Surabaya, menodainya, dan menjualnya ke Dolly,’’ kata Kasubnit PPA Satreskrim Polwiltabes Surabaya Iptu Mirmaningsih.

Tersangka lainnya adalah Yatim alias Baim, 27, warga Lakah, Lamongan. Sedangkan tersangka terakhir yang ditangkap adalah Debora Kristin, 47, mami Wisma Srikandi –wisma tempat Lina dijual di Dolly. ’’Ketiganya kami jerat dengan pasal 2 UU No. 21/2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang.

Kisah pilu Lina itu sendiri bermula ketika dia berkenalan dengan Feris di Malaysia. Keduanya memang sama-sama TKW di Malaysia, berkenalan dan kemudian pacaran. Tapi Lina tak tahu bahwa Feris ini ternyata sudah punya anak-istri.

Pada Juni 2008 lalu, Feris pulang ke Indonesia, namun Lina masih di Malaysia. Tapi keduanya masih terus berhubungan –dan Lina masih tetap menyangka bahwa Feris seorang bujangan.

Entah rayuan apa yang dipakai oleh Feris, sehingga pada 11 Desember lalu, Lina datang ke Surabaya dari Malaysia. Setelah menjemput di Bandara, Feris kemudian membawa Lina ke Hotel Antariksa. Di hotel, Feris pun merenggut kehormatan Lina.

Setelah itu, kisah hidup Lina selanjutnya adalah sebuah kisah mengenai eksploitasi, baik soal uang maupun soal kehormatan. Lina dipaksa meminjam sepeda motor ke budenya. Selanjutnya, Feris kemudian menggadaikan sepeda motor tersebut.

Karena malu ke budenya, Lina kemudian mengambil sepeda motornya sendiri di Nganjuk dan kemudian mengganti jaminan motor tersebut. Belum lagi riwa-riwi ke mana-mana yang selalu dibiayai Lina. Bahkan, Feris pun tak segan-segan minta dibelikan baju, celana, dan bahkan pulsa. ’’Total-total, selama tiga hari, saya habis uang Rp 9 juta,’’ aku Lina.

Puncaknya, Feris pun membawa Lina ke Dolly, dan memintanya kerja di sana sebagai PSK. ’’Agar kita bisa ketemu terus,’’ demikian rayu Feris seperti yang ditirukan Lina. Tentu saja, usul gila tersebut ditolak mentah-mentah oleh Lina. ’’Masak, saya disuruh jadi PSK. Yang benar saja,’’ sergah Lina.

Malam itu, Feris mengalah dan kemudian membawa Lina kembali ke Hotel Antariksa. Malam itu, Feris kembali menodai Lina. Kemudian, Feris memanggil temannya Baim keesokan harinya. Berdua, mereka kemudian membawa Lina kembali ke Dolly pada 14 Desember lalu.

Kali ini tanpa ada pertimbangan sekalipun. ’’Jadi, saya dibawa begitu saja ke Dolly, dan dipaksa menjadi PSK. Karena takut, saya mau-mau saja tanda tangan surat pernyataan menjadi PSK,’’ sambung Lina lagi, sedih. Lina semakin takut, ketika sejumlah penjaga wisma –yang rata-rata berwajah sangar dan berbadan besar—mendekat dan memintanya untuk segera ke kamar. Saat itu, Lina mengaku masa depannya rusak sudah.

’’Saya sebenarnya pingin tetap kerja di Malaysia. Tapi kalau sudah seperti ini, apa masih bisa ya?’’ ucapnya, masygul, di ruang penyidikan Unit PPA kemarin. Maklum saja, Lina bekerja sebagai seorang PRT (pembantu rumah tangga) di Malaysia. Dengan kepulangan ke Indonesia yang lebih dari tiga minggu, tentu saja kemungkinan besar majikannya sudah mendapat pembantu baru.

Dari hasil penyidikan yang dilakukan polisi, ternyata Lina dijual Feris dengan harga sangat murah. Yakni Rp 1 juta. ’’Dari hasil itu, Baim diberi uang Rp 150 ribu oleh Feris,’’ kata Iptu Mirmaningsih.

Kurang ajarnya, dua hari kemudian, Feris lagi-lagi datang ke Wisma Srikandi. Kali ini, Feris meminjam uang Rp 2,2 juta ke Wisma. Tentu saja, utang tersebut dimasukkan ke dalam daftar pinjaman utang atas nama Lina. ’’Jadi, Lina sama sekali tak mempunyai uang. Tiap uang hasil kerjanya dipakai untuk menyicil utang Feris. Jadi, betul-betul dieksploitasi,’’ tandasnya.

Selama 10 hari, Lina mengalami hidup seperti di neraka. Dipaksa melakukan pekerjaan yang dia tak mau, dan kalau pun bekerja, hasilnya tak pernah dia nikmati. Untuk itu, maka Lina sering ogah-ogahan menerima tamu. Hingga beberapa kali, Debora menegur Lina. ’’Kamu itu jangan males-malesan menerima tamu. Utangmu nanti gak lunas-lunas lho,’’ kata si mami.

Untunglah pada 24 Desember lalu, Lina kebetulan menerima tamu yang baik hati. Alih-alih minta pelayanan seksnya, si tamu justru mendengar keluh kesah Lina. Dia pun setuju untuk membantu memulangkan Lina –karena Lina memang tak tahu jalan dan tak punya uang sepeser pun.

Akhirnya, dengan berpura-pura pamit sebentar, Lina kemudian keluar wisma. Di pojok gang Dolly, sudah menunggu tamu yang baik hati itu. Dia kemudian mengantarkan Lina ke Terminal Bungurasih, mengantarkannya sampai ke dalam bus ke Nganjuk, dan membekalinya uang beberapa ratus ribu.

Sesampainya di rumah, Lina kemudian mengadukan nasibnya ke Polres Nganjuk. Karena TKP berada di Surabaya, Polres Nganjuk kemudian koordinasi dan melimpahkan kasusnya ke Unit PPA Satreskrim

Polwiltabes Surabaya. Petugas bertindak cepat, dan berhasil meringkus satu per satu. Atas ulahnya tersebut, Feris, Baim, dan Debora diancam hukuman minimal tiga tahun penjara dan maksimal 12 tahun penjara dan denda paling sedikit Rp 120 juta dan maksimal Rp 600 juta. (densus86antitekor@gmail.com)

Tagged:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Jual Pacar ke Dolly, Pemuda Sampang di Tahan at ARASKA.

meta

%d bloggers like this: