Dokter Totok: Saya Hanya Dijadikan Tumbal..!

7 October 2009 § Leave a comment

dr-totok-tunjukkan-putusan-ptunBANGKALAN, Dr Totok Soehartojo SpB, membantah kalau dirinya telah melakukan mal praktek terhadap seorang pasien yang tewas setelah dioperasi di RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu, Bangkalan, beberapa bulan lalu.

“Sebenarnya, saya tidak ingin kasus ini diperpanjang. Namun, saya dipojokkan terus dan nama baik saya sudah tercemar, maka saya akan buka semua kebobrokan pemkab Bangkalan,” terang Totok di Bangkalan, Rabu (7/10).

Totok menjelaskan, kasus tersebut bermula ketika ada seorang pasien bernama Hori Afi (25) warga Kecamatan Geger menderita penyakit vestel (ada borok di dubur) dan harus dilakukan operasi.

“Sebenarnya operasi ringan, jika tidak ada kesalahan maka tidak akan berakibat fatal yang berujung pada kematian pasien,” ungkapnya.

Menurut Totok, pasien dibius telebih dahulu sebelum dioperasi oleh dokter anesthesia. Namun, karena tidak ada dokter anesthesia akhirnya yang membius seorang perawat yang mendapat SK dari pihak rumah sakit yang bernama Munawaroh.

“Ternyata, saat proses pembiusan si perawat salah dalam mengambil obat yakni kalnex (untuk pegumpalan darah). Sedangkan obat yang seharusnya dimasukkan pada tubuh pasien yakni bufanes,” tuturnya.

Parahnya, sambung Totok, sang perawat tidak melaporkan kesalahan tersebut pada dirinya sehingga proses operasi dimulai. Akibatnya, setelah operasi selesai pasien langsung kejang-kejang sebelum akhirnya tewas.

“Kalau seperti itu siapa yang salah, saya atau perawat yang keliru masukkan obat. Mengapa hanya saya yang dihukum, padahal penanggung jawab perawat tersebut adalah dr Heru Subandrio SpM. Jika memang ada hukuman seharusnya semua yang terlibat. Kalau seperti kan saya dijadikan tumbal,” ucapnya.

Totok menambahkan, selanjutnya pemkab Bangkalan mengeluarkan surat keputusan (SK) yang menyatakan diduga karena melakukan mal praktek oleh karena itu dr Totok Soehartojo dicopot.

“Masak orang belum terbukti bersalah sudah dicopot, ini kan aneh. Apalagi sebelumnya tidak pernah ada pemeriksaan dari inpektorat terhadap saya,” ungkapnya.

Lalu, sambung Totok, keluar lagi SK yang menyatakan bahwa dr Totok Soehartojo dibebastugaskan dari jabatan. Padahal, seorang dokter itu selama bisa bekerja tidak boleh dibebastugaskan karena predikat dokter masih melekat dalam dirinya.

“Saya pun mengajukan gugatan atas SK tersebut pada PTUN (Pengadilan Tata Usaha Negara) Surabaya dengan tergugat Bupati Bangkalan. Hasilnya, tiga dari empat gugatan saya dikabulkan,” urainya.

Totok menjelaskan, dalam putusan nomor 56/G/2009/PTUN SBY menyatakan batal putusan tergugat (Bupati Bangkalan) yang menyatakan pembebastugasan dari dokter spesialis bedah pada RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu atas nama dr Totok Soehartojo SpB.

“Dan kedua memerintahkan tergugat untuk mencabut SK tersebut dan mengembalikan jabatan dan memulihkan harkat martabat penggugat,” ucapnya.

Anehnya, sambung Totok, pasca putusan itu dibacakan, Bupati Bangkalan mengeluarkan SK lagi dengan isi yang sama dengan sebelumnya. Padahal, SK tersebut diperintah dicabut oleh PTUN Surabaya.

“Kalau pejabat kepala dinas tidak melaksanakan putusan PTUN, maka jabatannya akan diturunkan jadi staf, jika Bupati tak melaksanakan putusan PTUN, saya tidak tahu sanksinya. Yang jelas, jika Bupati tidak melaksanakan akan dilaporkan pada PTUN dan saya menilai pemkab tidak melaksanakan azaz umum pemerintah yang baik,” paparnya. (Syaiful Islam)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Dokter Totok: Saya Hanya Dijadikan Tumbal..! at ARASKA.

meta

%d bloggers like this: