Nobel Fisika 2009, Zaman Informasi, dan Kita

15 October 2009 § Leave a comment

Ilustrasi: ‘Schoolnet Indonesia’ merupakan program yang dicanangkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dalam rangka menyediakan suatu jaringan informasi dan komunikasi antara sekolah di seluruh Indonesia.

Oleh NINOK LEKSONO

Tidak ada hal yang dapat menyimbolkan zaman informasi secara lebih baik daripada internet dan kamera digital (yang penyebarannya didukung oleh kabel serat optik dan CCD, yang merupakan karya Nobel Fisika 2009). (Robert Kirby-Harris, Kepala Institut Fisika Inggris, Reuters, 6/10/2009)

Oktober memang bulan Hadiah Nobel. Seperti telah kita ikuti beritanya, Hadiah Nobel untuk Kedokteran, Fisika, Kimia, Sastra, dan Perdamaian telah diumumkan pekan silam dan terakhir, Senin kemarin, Nobel Ekonomi. Kali ini, ulasan difokuskan untuk menyoroti Nobel Fisika dalam kaitannya dengan bidang yang kini tumbuh sangat mengesankan, yakni komunikasi.

Seperti kita baca, separuh dari hadiah yang besarnya 1,4 juta dollar AS diberikan kepada Charles K Kao dan separuh lainnya dibagi untuk dua peneliti dari Bell Labs, yakni Willard S Boyle dan George S Smith. Kao diberi penghargaan karena dinilai berjasa mengungkap rahasia bagaimana melewatkan cahaya ke jarak jauh melalui kabel serat optik. Penemuan ini ia buat pada pertengahan tahun 1960-an. Sementara Boyle dan Smith untuk jasanya menemukan sensor semikonduktor yang dikenal dengan sebutan charge- coupled device (CCD). Dewasa ini CCD ada dalam jutaan kamera digital.

Sekjen Akademi Nobel Gunnar Oquist ketika mengumumkan pemenang mengatakan, karya ilmiah yang mendapat penghargaan tahun ini telah ”meletakkan fondasi bagi masyarakat informasi modern” dewasa ini.

Serat optik

Kabel serat optik dan laser yang mampu mengirim pulsa cahaya sebenarnya sudah ada ketika Dr Kao mulai meriset serat optik. Namun, pada waktu itu, denyut cahaya hanya bisa berjalan sekitar 20 meter melalui serat kaca sebelum 99 persen cahaya meredup. Kao bertekad untuk merentang jarak jangkau 20 meter tersebut menjadi 1 kilometer (New York Times, 6/10).

Waktu itu banyak peneliti yang mengira bahwa ada banyak cacat pada serat gelas, seperti lubang atau retakan, yang membuat cahaya menyebar.

Bulan Januari 1966, Kao yang saat itu bekerja di Standard Telecommunication Laboratories, Inggris, memaparkan penemuannya. Ia mengungkapkan bahwa yang salah bukan pembuatan serat, tetapi bahan baku serat tersebut, yakni kaca, yang tidak cukup murni. Kaca yang lebih murni, terbuat dari kuarsa yang dilebur, akan lebih transparan sehingga cahaya akan bisa lewat dengan lebih mudah.

Apa yang dikatakan Kao dapat dibuktikan ketika pada tahun 1970 peneliti di Corning Glass Works bisa membuat serat optik ultramurni yang panjangnya lebih dari setengah mil, atau hampir 1 kilometer.

Jagat informasi

Dr Kao sendiri, yang kemudian bekerja di Chinese University, Hongkong, ketika mengomentari penghargaan yang diberikan kepadanya mengatakan itu sungguh amat tidak terduga.

”Serat optik telah mengubah jagat informasi demikian banyak dalam 40 tahun terakhir. Pasti hal itu disebabkan oleh jaringan serat optik yang memungkinkan berita bisa melaju dengan cepat,” kata Kao.

Menurut Akademi Nobel Swedia, jaringan kabel optik yang digunakan sekarang ini, bila diurai, akan memiliki panjang lebih dari 600 juta mil, atau hampir 1 miliar kilometer.

Ya, jagat informasi, dan kemudian zaman informasi, dengan kokoh dibangun oleh penemuan serat optik. Namun, menurut Robert Kirby-Harris, Kepala Institut Fisika Inggris, tidak ada hal yang dapat menyimbolkan zaman informasi secara lebih baik daripada internet dan kamera digital, di mana untuk yang terakhir ini komponen pentingnya berupa CCD ditemukan oleh Dr Boyle dan Dr Smith (Reuters, 6/10).

Teknologi CCD yang semula diarahkan untuk pembuatan telepon bergambar ini kemudian ditinggalkan oleh kedua penelitinya, yang tertarik kepada riset lain. Namun, CCD sendiri selanjutnya dimanfaatkan secara luas di berbagai penjuru dunia. Sekadar catatan, pada sebuah kamera dengan daya resolusi 10 megapiksel terdapat 10 juta CCD.

Selain digunakan pada kamera biasa, CCD juga digunakan pada teleskop angkasa Hubble, yang menghasilkan panorama alam semesta, dan juga pada wahana pendarat Mars NASA yang menghasilkan foto-foto eksotik daratan planet merah ini.

Kini, dari kilobita ke gigabita, dan berikutnya ke petabita dan exabita, informasi mengalir dengan lancar, lalu dalam wujud visual, bak muncul begitu saja, tambah Kirby-Harris.

Semua itu tidak lain karena adanya serat kaca yang memfasilitasi komunikasi pita lebar global seperti internet, tambah Komite Nobel. ”Teks, musik, foto, dan video dapat ditransfer ke penjuru dunia dalam sepersekian detik,” kata Komite.

Karya Nobel dan Indonesia

Dengan kedua karya Nobel di atas, berlangsung revolusi komunikasi yang masih kita saksikan hingga hari ini. Masyarakat Indonesia pun sudah secara luas menikmati kegunaan penemuan tersebut. Namun, apakah kita hanya puas sebagai pengguna internet dan kamera digital, tanpa memberi nilai tambah inovatif dari pemakaian kedua penemuan Nobel di atas?

Pada era internet sekarang ini, satu fakta yang masih ada adalah apa yang dikenal sebagai ”kesenjangan digital”, dicerminkan oleh adanya kesenjangan pemilikan dan akses terhadap teknologi informasi-komunikasi antara negara maju dan negara berkembang. Kita juga bisa memperluas pengertian ini dengan menempatkan konteks nasional, dalam hal ini kesenjangan teknologi informasi-komunikasi antara kota besar dan kota kecil. Pemilikan komputer yang hanya sekitar 10 persen dan akses internet yang hanya 15 persen jumlah penduduk menggarisbawahi realitas kesenjangan digital di Indonesia.

Pemerintah telah mencanangkan, ke depan masyarakat Indonesia harus bertransformasi menjadi ”masyarakat berbasis pengetahuan”, yang mau tak mau harus ditopang oleh informasi. Untuk itu pula diluncurkan program seperti Palapa Ring, USO (Universal Service Obligation) bagi operator telekomunikasi. Tujuannya adalah agar semua desa di Indonesia, yang jumlahnya sekitar 78.000, punya akses telekomunikasi, sebagai infrastruktur dasar pembangunan masyarakat berbasis pengetahuan.

Dalam konteks ini pula, meski ada komunikasi satelit, tersedianya kabel serat optik berkemampuan besar merupakan fondasi dasar. Karena itu pula, bila kelak bangsa Indonesia dapat menanggulangi kesenjangan digital dan bertransformasi menjadi masyarakat berbasis pengetahuan, yang lalu juga menelurkan ekonomi berbasis pengetahuan, di dalamnya pasti ada jasa pemenang Nobel Fisika 2009.

Sumber : Kompas Cetak

Tagged:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Nobel Fisika 2009, Zaman Informasi, dan Kita at ARASKA.

meta

%d bloggers like this: