Wuih, Ada Rumah Sakit Khusus Elang

15 October 2009 § Leave a comment

Burung elang yang sakit mendapatkan perawatan dari tenaga kesehatan di Rumah Sakit Elang (Abu Dhabi Falcon Hospital), Senin (17/8). Sekitar 4.000 burung elang masuk- keluar rumah sakit khusus itu setiap tahunnya.

Kehidupan berpindah-pindah masyarakat badawi Arab memang sudah mulai ditinggalkan. Namun, jejak keakraban mereka dengan burung elang masih terlihat antara lain di Rumah Sakit Burung Elang Abu Dhabi (Abu Dhabi Falcon Hospital). Rumah sakit yang khusus menerima pasien-pasien bersayap.

Pada suatu siang belasan burung elang dengan penutup mata berbaris rapi. Mata mereka sengaja ditutup agar tidak saling menyerang. Pasien-pasien berbulu itu datang dengan berbagai keluhan, mulai dari helai bulu yang hilang sampai dengan serangan penyakit unggas.

Di ruangan yang sama, di atas meja berlampu sorot Amer, salah seorang staf rumah sakit, tengah membius seekor burung elang hingga pingsan. Dia kemudian mencari helai bulu berukuran serupa dari laci koleksi, meraut sebilah bambu kecil, mengoleskan lem khusus, dan memasang bulu baru ke lubang sisa patahan sayap. ”Helai yang hilang mengganggu keseimbangan terbang,” ujar Margit Gabriele Muller, Direktur Abu Dhabi Falcon Hospital, sekitar sebulan lalu.

Ada sekitar 4.000 pasien bersayap yang dibawa ke rumah sakit tersebut setiap tahunnya. Di rumah sakit itu disediakan fasilitas pemeriksaan medis rutin, vaksinasi, endoskopi, bedah, dan unit gawat darurat 24 jam. Fasilitas itu juga dilengkapi dengan alat-alat kesehatan berteknologi canggih. Para tenaga kesehatan satwa di sana mempunyai pengalaman mengatasi berbagai kasus yang menimpa spesies burung.

Rumah Sakit Burung Elang Abu Dhabi merupakan rumah sakit publik pertama di Arab bagi burung-burung elang. Pertama dibuka tahun 1999 dan berafiliasi dengan Environment Agency Abu Dhabi. Sejak tahun 2007, rumah sakit tersebut dibuka bagi pengunjung umum yang tertarik melihat aktivitas di sana.

Selain menangani pasien, terdapat pula riset-riset mengenai burung elang yang kemudian dipublikasikan secara internasional. ”Belakangan kami aktif meneliti parameter darah dan bakteri-bakteri yang menyerang elang. Kami merasa berkewajiban memberikan ilmu bagi perkembangan konservasi burung ini,” ujar Margit.

Persoalan konservasi memang menjadi salah satu perhatian. Terlebih lagi untuk peregrine falcon yang masuk dalam daftar satwa terancam punah. Saat ini populasi burung elang terbesar di Uni Emirat Arab berada di Abu Dhabi, walaupun Margit tidak dapat menyebutkan jumlah tepatnya.

Falcon convention pada tahun 2002 juga mempertegas perlindungan terhadap satwa tersebut. Sebagai bentuk perlindungan, burung-burung elang yang ada di tangan masyarakat didata dan dibuatkan dokumennya. Burung-burung itu juga memiliki paspor khusus sebagai identitas.

”Burung elang peliharaan yang akan dibawa melintasi batas negara harus dilengkapi dengan paspor tersebut. Burung-burung elang liar sebagian dipasangkan semacam chip untuk memantau pergerakannya,” ujarnya.

Menjadi simbol

Burung elang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Arab. Penyair Arab kerap membuat puisi yang mengidentikkan burung elang dan kelas masyarakat di sana. Elang menjadi simbol jazirah Arab lebih dari kawasan mana pun. Di berbagai tempat umum di Abu Dhabi, misalnya, kerap dijumpai gambar diri sheikh dengan burung elang perkasa bertengger di lengan.

Sejarah kedekatan masyarakat Arab dengan burung elang berbeda dengan hubungan antara satwa tersebut dan masyarakat lain, seperti Eropa. ”Di Eropa burung elang identik dengan hiburan dan olahraga,” ujar Margit.

Bagi masyarakat badawi Arab, burung elang merupakan satwa yang membantu kelangsungan hidup mereka selama masa pengembaraan di gurun pasir pada masa lampau.

”Begitu musim gugur tiba burung-burung elang bermigrasi dari Eropa ke Afrika melintasi gurun. Saat itulah burung-burung ditangkap oleh para pengembara gurun. Burung-burung itu dijinakkan untuk membantu perburuan. Hidup di gurun yang ganas sangat sulit dan satwa itu membantu mereka bertahan hidup,” ujar Margit.

Burung-burung itu kemudian menjadi bagian dari kehidupan dan keluarga mereka, bahkan dianggap sebagai anak. Sekarang masyarakat badawi Arab yang sudah menetap memang tidak harus berburu kembali, tetapi tradisi dan kekerabatan antara dua makhluk yang berbeda itu terus berlangsung.

Keluarga-keluarga menurunkan tradisi memelihara burung elang ke generasi berikutnya. Sebagian burung elang di rumah sakit itu dibawa oleh anak-anak yang memperoleh burung tersebut dari orangtuanya. Rumah sakit burung elang pun tak pernah kehabisan pasien.

Sumber : Kompas Cetak

Tagged: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Wuih, Ada Rumah Sakit Khusus Elang at ARASKA.

meta

%d bloggers like this: