Prof Ariffin, Bertugas di Universitas Trunojoyo ibarat Bertapa

25 November 2009 § 1 Comment

ENAM tahun belakangan, Ariffin bertapa di Pulau Garam, Madura. Rektor Universitas Trunojoyo itu mengibaratkan dirinya bertapa di sana karena jauh dari keluarga tercinta. Istri dan anak berada di Malang. Sejak 2003, guru besar agroklimatologi Universitas Brawijaya tersebut mengemban tugas mengurus Universitas Trunojoyo, Bangkalan.

Mulanya, dia ditugaskan menjadi pembantu rektor satu Universitas Trunojoyo. Tapi, tiga tahun terakhir, selempang rektor disematkan di pundaknya. “Berpisah dengan keluarga memang tidak gampang. Saya anggap itu sebagai bagian dari ibadah. Dengan begitu, saya bisa menjalani dengan ikhlas dan tidak merasa berat lagi,” ungkap Ariffin.

Di Pulau Garam, dia menempati fasilitas guesthouse tak jauh dari kompleks kampus. Dia hanya ditemani seorang pengurus rumah tangga. Kompleks itu sepi. Satu-satunya tetangga hanyalah Purek I, yang kediamannya tepat di sebelah rumah yang ditempati Ariffin.

Lingkungan yang sunyi tersebut meneguhkan kehidupannya. “Terutama malam, di sini sepi sekali. Siang, tidak begitu terasa. Sebab, saya sibuk di kantor,” katanya.

Dengan begitu, tak banyak hal yang bisa dilakukan Ariffin saat malam. Kegiatan malamnya hanya membaca atau mengerjakan tugas kantor. “Mau pergi ke kota, juga jauh,” ungkap guru besar yang juga aktif mengajar di Fakultas Pertanian Unibraw tersebut.

Namun, pertapa pun butuh hiburan. Untuk mengenyahkan sepi, sesekali dia keluar dari kandang dan bermain badminton di area sekitar kampus. Momen itu cukup menyenangkan bagi dia. Di sana dia bisa bertemu banyak orang. Bukan hanya warga sekitar, ada mahasiswa yang indekos di sekitar kampus.

Saat itu Ariffin melepas label rektornya. Di lapangan badminton, dia adalah warga biasa. “Kala bermain, tidak ada lagi jarak. Saya dan mahasiswa seperti teman,” ujar ayah M. Candra Arviantria, Henky Muhammad Mastrianto, Novita Wahyu Rahmawati, dan Faradila Kharismatinnisa tersebut.

Sejak muda, Ariffin memang menggandrungi badminton. Menurut dia, badminton merupakan olahraga yang kompleks karena menggerakkan seluruh sendi tubuh. Olahraga itu, menurut dia, cepat menghasilkan keringat. Waktu pulang kampung ke Malang tiap akhir pekan, Arifin juga rutin bermain badminton, terutama Sabtu pagi. “Itu dilakukan untuk kesenangan saja, bukan mencari prestasi. Yang penting badan bugar dan senang,” terang dia.

Biasanya, Ariffin main badminton setelah salat Magrib hingga pukul 22.00. “Sekalian men-charge pikiran dan menghilangkan penat. Kalau sudah bermain, saya kan bisa berteriak dengan bebas. Lha, di kantor kan tidak mungkin,” ucap suami Sulistiadewi tersebut. (ign/soe)

jawapos.com

Tagged: ,

§ One Response to Prof Ariffin, Bertugas di Universitas Trunojoyo ibarat Bertapa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Prof Ariffin, Bertugas di Universitas Trunojoyo ibarat Bertapa at ARASKA.

meta

%d bloggers like this: